Uang: MK vs KPU (Bag. 1)

Kembali ke Sepeda Seperti Kembali ke EmasPerak

Kembali ke Sepeda Seperti Kembali ke EmasPerak

Mungkin judulnya terdengar tendensius, mungkin judulnya asal-asalan, mungkin judulnya provokatif, mungkin judulnya cuma supaya laku di pasar media massa, mungkin judulnya keren, mungkin judulnya “walah… anak muda emosi mu terlalu!” Namun saya percaya respon yang kita hasilkan adalah apa yang dikerjakan otak dan mata hati. Objek yang sama akan diproses oleh setiap orang dan kemudian hasil responnya ajaib tidak satupun sama, sebab setiap orang punya informasi masa lalu, punya intuisi, punya spontanitas yang berbeda.

Sebelumnya uang berkata “Jokowi sama aja dengan Prabowo keliru memahami uang.” Nah sekarang uang berkata “Siapa yang akan menang, Mahkamah Konstitusi (MK) atau Komisi Pemilihan Umum (KPU)?” Tentu saja yang memegang bukti terkuat lah yang menang. Kita lihat aja nanti Jokowi atau Prabowo yang menang. E.. apa saya sok tahu tu? Maaf ya kalo saya sok tau.. masih belajar…

Sekali lagi, uang cuma bertanya, seandainya dia bisa bicara.

Bukan lah ini bermaksud bahwa MK dan KPU diatur oleh uang, dikuasai oleh uang, apatah lagi bukan bermaksud bahwa MK dan KPU disuap (dengan uang) oleh para bankir. Singkirkan itu makna!

Nanti akan ketahuan ke mana layar tulisan ini menuju, setelah melewati sebagian masa lalu yang meninggalkan bukti tulis, lisan, gambar ataupun video dan sebagainya, bahkan legenda bisa menjadi bahan sejarah dengan syarat tertentu.

Tapi jangan terburu-buru salahkan sejarah kalo bukti yang ditemukannya baru sebagian. Bagaimanapun juga sebagian itu tetap bisa dikisahkan. Biarlah nanti seiring waktu, bukti-bukti bermunculan sehingga sejarah makin berkisah dan makin menarik. Eee..jadilah sepanjang hidup adalah sejarah sesaat waktu berlalu…

Sebagai contoh, tema evolusi dalam biologi, saya kira para pelajar tidak terusik dengan teori itu, mungkin karena banyak yang tidak mendalami. Para dosen juga tidak terusik dengan teori itu.

Eh atau saya aja yang terlalu sensitif dengan teori itu: kehidupan terjadi dengan hitungan probabilitas. Ternyata tidak hanya saya yang terusik, ada pula orang Budha yang terusik.

Penolakan saya terhadap teori itu bahwa sampai detik ini tidak ada ilmuan yang menciptakan seekor lalat pun. Lalu bagaimana bisa saya percaya sama teori evolusi? Teori evolusi memang tidak mengatakan lalat dari komponen kimiawi yang berinteraksi menjadi individu lalat setelah jutaan tahun (atau manusia dari kera, reptil dari ikan, paus dari mamalia darat) tapi isyaratnya jelas sekali mengarah kepada makhluk hidup bukan diciptakan Tuhan tapi diciptakan tahun (probabilitas).

Isyaratnya jelas sekali, makhluk hidup terbentuk menurut hitungan probabilitas kimiawi, fisika dan seterusnya.

Dan saya merasa ada isyarat dari propaganda teori evolusi bahwa waktu adalah solusi, tapi saya justru mendukung guru ngaji saya, ia bilang “waktu adalah sebagian dari solusi”. Sebagiannya saja bukan seluruhnya.

Kalo galaksi bimasakti belum ada berarti waktu belum ada juga ya? Bingung ah… jelas-jelas toh tahun (waktu) diciptakan oleh Tuhan. Bukan tahun adalah Tuhan.

Saya baru sadar, biarlah sebagian bukti evolusi bercerita. Nanti ada yang mengajukan bukti-bukti baru. Selanjutnya “pariwisata sains” mencuatkan perlombaan dalam pengajuan bukti. Makin menarik lah bukti berkisah. Ya kan? Sebutlah Harun Yahya yang membantah Teori Darwin, begitu pula teori neo-Darwin. Sampai-sampai pentingnya ini evolusi, Campbel dkk pernah mengatakan evolusi adalah tema utama biologi.

Yah biarlah dulu…

Dalam marketing ada strategi berlapis-lapis, maksudnya, kalo tidak bisa menggaet customer dari cara ini maka pakai cara yang itu, jika tidak bisa juga maka pakai cara yang lain lagi, jika tak sukses juga maka pakai cara yang jitu. Begitu lah marketing tidak nyerah, para bankir pun demikian.

Para bankir, sesepuhnya adalah orang lapangan. Dalam perusahan pertambangan orang lapangan menghadapi risiko lebih besar dari orang kantoran. Bahkan menghadapikematian, tapi gajinya nyaris jauh lebih besar ketimbang orang kantoran. Sesepuh para bankir adalah orang yang telah berpengalaman, memang mereka orang lapangan sekaligus orang kantoran. Kenyang mereka akan kecerdikan dalam menipu.

Ada pun sejarah uang barangkali sulit dimengerti. Seperti sulitnya mengilhami bahwa para bankir lah ujung tombak kolapsnya perekonomian. Pada artikel “Uang: Jokowi, Prabowo Pun Tertipu Puluhan Tahun” (yang terbagi dalam 16 seri) mungkin sulit dimengerti . Tampaknya, akan lebih baik diikuti dengan pembahasan yang dilengkapi waktu (kejadian) sehingga kita bisa menerawang masa lalu uang dan peristiwa apa saja yang berkaitan dengannya: propaganda media massa, perang dunia, pembunuhan presiden AS, pendirian Bank Sentral, tarik-ulur kepentingan antar orang-orang opportunis, penyuapan DPR oleh para bankir, perang ideologi dan sebagainya.

Nah, agak ekstrim sih.. Ada baiknya Indonesia di abad 21 ini memprakarsai penerbitan mata uang sendiri yang tidak berkait dengan dolar AS tapi berkait dengan emas (atau perak juga boleh). Mata uang yang benar-benar sebagai alat bayar dan alat tukar yang pada hakikatnya tetap merujuk pada barter. Indonesia mencetak mata uang yang setara estimasi kuantitas dan kualitas barang/jasa dalam lingkup wilayah Indonesia (dari Sabang sampai Merauke) atau ikut teori Lincoln mencetak uang sesuai dengan belanja Pemerintah dan kebutuhan masyarakat. Kalau ada respon keras dari dunia secara riil dan dari segala penjuru media massa berarti benar lah bahwa sistem riba sengaja dijaga selama ratusan tahun. Hebat…

Jangan remehkan emas Indonesia, AS berliur-liur mengeruk emas di Papua.

Di Jambi saja ratusan alat dikerahkan untuk menambang emas. Dari mana saya tahu? Dari sumber primer, dari orangnya langsung bro.

Jangan remehkan emas Indonesia!

Kalau Presiden Indonesia kemudian terbunuh, itu menegaskan kembali para bankir adalah penipu ulung/rakus/penjahat.

Ingat lah teori geopolitik: sesiapa yang menguasai lautan maka ia menguasai perdagangan, sesiapa yang mengusai perdagangan dia menguasai kekayaan dunia, sesiapa yang menguasai kekayaan dunia maka ia menguasai dunia.

Teori itu bisa dipelintir: siapa yang menguasai uang, ia menguasai kekayaaan dunia, siapa yang menguasai kekayaan dunia ia menguasai dunia.

Bisa pula teori itu diperas menjadi: “siapa yang banyak memberi, dia lah yang menguasai.”

Mau pilih yang dipelintir atau yang diperas? Terserah lah. Kalo ikut fakta, orang dermawan malah tambah kaya dan merasa cukup lho. Sebut saja Muhammad saw di abad ke-7. Abad ke-19 lihatlah Hasan Al-Banna, atau di abad sekarang lihatlah Erdogan, Bill Gates dan masih banyak lagi contohnya yang kita dengar dan baca dari tetangga atau dari media. Tidak seperti Rothschild dan diferensiasinya (keturunan dan kroninya) tambah kaya tapi tidak merasa cukup ee… malah menipu banyak manusia.

Saya yakin Andrew Hitchcock yang menulis sub judul “Sejarah Pedagang Uang” melakukan penelitian lapangan serta penelitian kepustakaaan. Terpenting sejarah bikin hidup punya tujuan… ya kan? Sejarah itu: (1) bikin kita sadar, waktu mau diisi dengan sebaik-baiknya (kalo tidak baik pasti buruk); (2) bikin kita tak ingin gagal di kesempatan yang sama; (3) sumber inspirasi; (4) sumber inspirasi; (5) sarana rekreasi. Temukan itu di “Sejarah Pedagang Uang!”

Inilah sejarah pedagang uang dikutip dari “Masa Lalu Uang dan Masa Depan Dunia” (buku terjemahan) atau hyddenmysteries.org (english) dan buku-buku lainnya yang masih satu alur, seperti “Knight Templar Knight of Christ.”

Mohon beri pengertian/makna/tanggapan/kritikan/saran di kolom komentar jika ada/jika berkenan/jika ingin meluruskan..

SEJARAH PEDAGANG UANG (MONEY CHANGER)

Para ekonom senantiasa membohongi publik bahwa resesi dan depresi adalah bagian alami dari siklus bisnis. Namun kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Resesi dan depresi selalu terjadi bila Bank Sentral memanipulasi jumlah uang beredar, yang tujuan akhirnya adalah memastikan semakin banyak kekayaan yang ditransfer dari masyarakat ke tangan mereka. Bank Sentral sendiri merupakan metamorfosa dari pedagang uang di zaman dahulu.

48 S.M.: Julius Caesar mengambil kembali hak untuk membuat koin emas dari tangan edagang uang di zamannya untuk kepentingan masyarakat. Dengan suplai uang baru yang berlimpah, dia memulai banyak proyek kontruksi dan pekerjaan umum. Dengan umlah uang yang banyak, Caesar memenangkan hati dari rakyatnya.

Tetapi para pedagang uang membencinya dan karena itu Caesar dibunuh. Setelah kematian Caesar, suplai uang berkurang, pajak naik, demikian juga korupsi.

Pada akhirnya suplai uang di Roma berkurang sampai 90%, yang menyebabkan rakyat jelata kehilangan tanah dan rumahnya.

Julius.Caesar
Julius Caesar

30 : Yesus Kristus untuk pertama kalinya menggunkan kekerasan untuk mengusir para pedagang uang keluar dari Bait Allah.

Ketika orang Yahudi membayar pajak ibadah di Yerusalem, mereka harus membayar dengan koin khusus, setengah shekel (setengah ounce perak murni). Koin jenis itu adalah satu-satunya koin perak murni tanpa gambar Raja, karenanya bagi Yahudi itu adalah satu-satunya koin yang bisa diterima oleh Tuhan.

Sayangnya koin ini jumlahnya tidak banyak, para pedagang uang mengumpulkan hampir semuanya, dan harga dari koin ini menjadi sangat mahal karenanya. Mereka memaksa orang-orang Yahudi untuk membayar mahal koin ini dan mendapatkan keuntungan besar.

Yesus mengusir para pedagang uang ini karena tindakan monopoli mereka yang merusak kesucian rumah Allah. Beberapa hari kemudian, Yesus disalib.

1024: Para pedagang uang memegang kendali suplai uang di Inggris dan secara umum disebut sebagai tukang emas. Uang kertas mulai diedarkan dalam bentuk kuitansi deposit emas dari masyarakat kepada para tukang emas karena kebanyakan orang menyimpan emas mereka kepada tukang emas. Kertas-kertas kuitansi ini pun mulai diperdagnagkan dan digunakan dalam perdagangan sehari-hari karena lebih nyaman dan mudah dibawa daripada koin emas dan perak.

Bersambung…

linked:
http://politik.kompasiana.com/2014/08/05/uang-mk-vs-kpu-bag-1-678093.html

read more:
http://politik.kompasiana.com/2014/06/19/uang-dan-saya-tertipu-ratusan-tahun-bg-1-667595.html
http://politik.kompasiana.com/2014/06/23/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-2-668469.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/08/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-3-672723.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/10/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-4-672990.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/12/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-5-673490.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/13/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-6-673767.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/14/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-bag7-674023.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/15/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-8-674102.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/16/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-9-674326.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/17/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-10-674549.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/18/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-11-674804.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/19/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-12-675049.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/20/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-13-675218.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/21/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-14-675408.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/22/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-15-675642.html
http://politik.kompasiana.com/2014/07/23/uang-jokowi-prabowo-pun-tertipu-puluhan-tahun-bag-16end-675947.html
http://www.iamthewitness.com/books/Andrew.Carrington.Hitchcock/The.History.of.the.Money.Changers.htm

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s