Tatkala Subuh Jasad Sekuat Nyawa

Subuh ke pasar lah aku.
Berkah gerimis mungkin melaju.
Aduk bercampur aneka bau.
Varian pangan pamer mempesta.

Makhluk-makhluk berbalas suara.
Di atas pondasi berembun lah tanah lagi berbasah.
Di bawah atap yang belum membiru.
Tak lama lagi hiruk-pikuk diramu.

Maka sebelum atap membiru,
Sebelum pondasi kering kerontang,
Aku lugu dahulu.
Aku sambut sang fajar yang mempesona
Mengalir nikmati fluktuasi cahaya,
Mengawini Rumah Indonesia.

Ini pasar,
sebelum datang pembeli,
ada lah umat satu profesi,
sejuta ingin tapi.
Maklum lah tabiat begitu lah ada.
Kadang de facto, pikiran abai.
Tapi lebih benar butuh Kepala.
Kontroler bagi Rumah Indonesia.
Ada lah jasad sekuat nyawa.

Maka sebelum atap membiru,
Sebelum pondasi kering kerontang,
Aku lugu dahulu.
Ya Tuhan… pilih lah nomor satu.
Kalo tidak, maka jadikan aku tetap satu.
Jasad sekuat nyawa.
Memang berat, tapi aku tak hilang harap.
Tersebab Engkau Yang MahaKaya.

by. Mahendra (Pasar Bangko, 09/07/14, embun 05:30 am)

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in puisi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s