Mencari Ketombe di Padang Rambut Ketiak (Bag. 2/End)

Prabowo pembunuh.. itu sebagai tuduhan. Mungkin ada yang komentar itu POTENSI.. Kata sejarawan (yang juga teman saya yang pernah kuliah di UGM) kasus Prabowo itu tinggal pembuktian Yurudis aja. Ia menggambarkan dengan istilah :orang ngebut berPOTENSI nabrak. Begitu pula Prabowo berpotensi bersalah dalam peristiwa ’98 itu, menurutnya.

Menanggapi itu saya cuma:

Pertama: di hadapannya saya bilang, tapi dalam hati: “Baik saya dan Anda sama-sama dapat sumber kedua atau sekunder. Bukan primer”. Faktanya saya diam.

Biarin aja dia berkoar-koar, toh dia orang yang GOLPUT. Mengaku sebagai pengamat atau penonton. Biarin aja ,yang penting , baik kubu Prabowo maupun kubu Jokowi sama-sama memperjuangkan mana yang baik menurut logika, intuisi dan masa depan Indonesia. Saya selalu memulai dengan apa yang diajarkan oleh dosen: tatkala makan snack yang menyisakan sampah dan tatkala tidak ketemu tong-sampah maka sampahnya masukkanlah ke dalam kantong celana atau dalam tas (untuk sementara) sampai ketemu tong-sampah. Itu demi kemuliaan amanah yang diberikan kepada manusia: memelihara bumi. Bukan demi peradaban-yang-mulia. Apalagi sekadar demi tanah air Indonesia.

Kedua: biarin aja orang-orang yang menuduh itu, biarin mereka mencari bukti. Dalam fisika setahu saya POTENSIAL itu berbeda dengan KINETIK. Potensial itu diam sedangkan KINETIK itu ada geraknya.

Oke .Silakan yang menuduh JOKOWI jelek, cari lah bukti, yang menuduh Prabowo jelek, ya carilah buktinya!

PILPRES sebelumnya gak ada tu diungkit sama PDIP-nya Megawati, saat Prabowo jadi Cawapres yang berpasangan dengan Megawati. Ini sudah dari dulu jadi pembahasan orang. Terserahlah mau buat 1000 alasan menolak Prabowo. Kita buktikan seberapa banyak kita berkorban bersama-sama, di satu sisi membangun pendidikan di Indonesia ini! Anda nyumbang apa untuk yang Anda dukung? Nyumbanglah dengan tanpa pamrih. Berani gak? Berani berapa? Itu pertanyan untuk saya pribadi dan yang mau peduli.

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s