Mencari Ketombe di Padang Rambut Ketiak (Bag. 1)

Untuk pembuka tulisan dan pembelajaran bagi kita dan terutama saya pribadi:

Keberanian adalah kualitas manusia yang pertama, karena kualitas itulah yang menjamin kualitas-kualitas lainnya (Aristoteles)

Sebagian besar ketakutan yang kita hadapi timbul dari perasaan kita belaka (John G. Maxwell)

Tampaknya serangan mendadak sangat mengagetkan kita, kecuali bagi yang sudah terlatih ya? Berdasarkan Sistem Saraf Pusat yang berperan, gerak pada manusia dibedakan menjadi dua partai besar: partai pertama adalah “gerak refleks“, dan partai kedua adalah “gerak biasa”.

Pada gerak refleks Sistem Saraf Pusat yang berperan adalah Sum-sum Tulang Belakang . Pada gerak biasa Sistem Saraf Pusat yang Berperan adalah Otak. Sedangkan. Baik gerak “refleks” maupun gerak “biasa” bisa dilatih. Beruntung kalau kita sudah terlatih, diserang secara mendadak dari belakang , kita langsung refleks maka musuh bisa dijungkir balikkan. Konklusinya : latihan itu adalah kata lain dari pendidikan.

Pada kondisi yang berbeda. Otak maupun Sum-sum Tulang Belakang sama manfaatnya bagi kita. Terpijak paku maka dengan gerakan yang sangat cepat kita menarik kaki kita. Keputusan yang tersimpulkan dari beragam data memerlukan peran Otak. Peran Sistem Saraf Pusat ada pada tempatnya.

Seperti dalam menjalankan pemerintahan ada kala harus lambat, ada kala harus cepat. Para politikus lebih paham. Duh maaf sedang saya sedikit sekali pahamnya. Keputusan yang diambil kalau sekadar dari data lapangan yang terindera oleh panca indera kita, itu biasa. Ada yang luar biasa. Apa itu? Ketika keputusan itu dibalut dengan intuisi dan keberanian. Jika “gerak refleks” dan “gerak biasa” berkombinasi, produk pertama dan utamanya merupakan keyword dan segala wujudnya adalah: LUAR BIASA.

Nah coba bayangkan seandainya Jokowi bertarung dengan preman, atau bayangkan Jokowi berusaha menolong orang yang teraniaya karena perampokan, atau bayangkan Jokowi bertarung dengan bosnya bos preman (galak)! Semua kondisi itu adalah satu lawan satu. Bagaimana menurut Anda?

Saya dapat membayangkannya dengan pikiran positif bahwa Jokowi bisa mengatasi masalah-masalah itu. Setiap orang punya cara yang berbeda ketika menghadapi orang yang tak bisa dibujuk dengan jiwa tapi diberi pelajaran dengan fisik.

Dan saya lebih yakin lagi kalau Prabow-OK (Prabowo maksud saya) dengan cara yang yang unik, lebih bisa mengatasi masalah-masalah itu dengan lebih efektif (singkat waktu) dan efisien (hemat energi). Karena di samping telah terlatih dengan “gerak biasa” dia juga sudah terlatih dengan “gerak refleks” di dunia militer. Modal awal berani itu adalah siap mati. Keren…

Keberanian untuk mati itu tidak mudah didapat, mungkin ia adalah bakat, kadang ia butuh latihan yang cermat.

Keberanian jarang ditemukan sehingga sebelum menemukannya saya sempat beristilah: “seperti mencari ketombe di padang rambut ketiak”. Tapi sekarang ketemu pada Prabowo. Berani mati sudah terbukti dari ekpedisinya mendaki gunung tinggi dan keberaniannya bersamaaan memimpin pasukannya saat ia diberi tugas dari Angkatan Darat.

Meskipun Victor Hugo pernah mengatakan serbuan tentara bisa dilawan, tetapi serbuan ide tidak bisa dilawan. Tetap saja “IDE”memerlukan kondisi. Ada kondisi perang dengan IDE ada pula kondisi perang dengan FISIK. Dan agaknya, perang dengan FISIK itu paling -tidak-sering terjadi.

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in esai and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s