Menanggulangi AIDS dengan Iman

Sebelum memperingati hari AIDS sedunia, baiknya kita tahu dahulu apa AIDS itu? AIDS adalah singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) telah ditahbiskan sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS (Kemenkes RI, 2011).
Laporan World Health Organization—disingkat WHO (2011), menunjukkan dampak serius dari HIV. Karena itu mungkin tidak ‘bosan-bosannya’ masyarakat memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS) 2011 yang diperingati setiap tanggal 1 Desember—tema pokok HAS di Indonesia Tahun 2011 yaitu: ”Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS” (Komisi Penanggulangan AIDS, 2011). Yang maksud spesifiknya adalah “lindungi pemuda dan dunia pelajar dari HIV dan AIDS melalui konseptualisasi sikap menjauhi perilaku mendekati zinah (free sex).

Laporan WHO (2011),
1. HIV adalah salah satu pembunuh terkemuka di dunia yang sifatnya menular, terjadi kematian lebih dari 25 juta jiwa selama tiga dekade terakhir,
2. ada sekitar 34 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2010,
3. infeksi HIV dapat didiagnosis melalui tes darah untuk mendeteksi ada atau tidak adanya antibodi dan antigen,
4. sebuah obat untuk infeksi HIV belum ditemukan tetapi dengan pengobatan yang efektif dengan obat antiretroviral therapy, pasien dapat mengendalikan virus dan menikmati hidup sehat dan produktif, dan
5. pada tahun 2010, sekitar 6,6 juta orang yang hidup dengan HIV menerima terapi antiretroviral di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tetapi lebih dari 7 juta orang sedang menunggu untuk mengakses pengobatan.

Siapa pun tak ingin lebih semarak pada peringatan hari AIDS ketimbang semarak pada langkah operasional dalam menanggulangi dan mencegah AIDS. Komisi Penanggulangan AIDS menyampaikan strateginya untuk mengurangi kasus AIDS, satu di antaranya adalah sosialisasi HIV dan AIDS melalui kegiatan keagamaan (strategi lengkap kunjungi http://www.aidsindonesia.or.id). Jenis kegiatan antara lain meliputi: Khotbah Jumat; Ceramah di Majlis Ta’lim; Khotbah Minggu di Gereja; Ceramah di Vihara dan Pura.
Selain itu ada srategi berupa semarak lomba-lomba. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan menggugah minat serta kesadaran masyarakat terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Sasaran lomba di tingkat pusat adalah remaja dan pemuda. Bentuk lomba yang diadakan antara lain meliputi: Lomba musik RAP bagi remaja; Lomba Karya Tulis Remaja dan Pemuda dengan topik HIV dan AIDS; Lomba band (misalnya sound for life, dan lain-lain); Lomba pembuatan film pendek tentang HIV dan AIDS; Lomba Pembuatan cerpen, teater, dan foto untuk kalangan pelajar.
Yang termahal dari kehidupan saat ini adalah kesadaran karena hal itu telah sangat jarang ditemukan. Kehidupan dan segala hiruk pikuknya telah membuatnya sebagai sebuah sifat asing, yang walaupun ada di tengah manusia, mereka tidak mengenalnya. Manusia dan kesadaran telah tersenjangkan. Sebaliknya, ketidaksadaran, main-main, dan hiburan adalah hal yang sangat dikenal dan akrab digauli (Sulha, 2008).
Menyadari ‘mahalnya’ harga kesadaran pentingnya pendidikan agama di sekolah sejak dini adalah proses mengejar cita-cita luar biasa bahwa AIDS akan berhasil ditanggulangi. Adalah mengambil nilai agama, kita diharapkan menjauh dari sebab-sebab yang dapat mengantarkan pada perzinahan, atau menanamkan kalimat janganlah kamu mendekati perbuatan zinah (Q.S. Al-Isra’ [17]: 32) berkali-kali.
Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan. Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: “Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, … keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan (Oktar, 2007).
Perlu kita garibawahi bahwa pengurangan jumlah kasus AIDS dapat lebih efektif dengan pendekatan pendidikan agama islam yakni filsafat dan sistem yang selaras dengan penciptaan manusia. Ketika iman kepada Allah tertanam kuat dalam setiap diri manusia maka kebahagian akan didapat. Oktar (2007) mengutip pernyataan Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain.
Mengapa pendekatan agama lebih efektif? Karena perilaku seksual menyimpang yang notabene adalah ‘wadah’ bagi penularan HIV—tentu saja mencegah seseorang dari dampak AIDS. Langkah operasional untuk menanggulangi AIDS itu seperti apa? Pikirkanlah!
Cara penularan HIV di Indonesia, paling banyak disebabkan oleh hubungan seks heteroseksual, Injecting Drug User (IDU), hubungan seks sesama jenis, dan perinatal. Sementara itu, penyebab utama penularan HIV di Indonesia adalah melalui cairan kelamin saat berhubungan seksual, darah melalui jarum suntik diantara pengguna narkoba, dan air susu ibu (ASI) dari ibu pengidap HIV kepada bayinya (Kemenkes RI, 2011). Cara terbaik mencegah dan menaggulangi penularan HIV adalah mengkondisikan diri agar tidak memberi jalan bagi HIV untuk ‘memasuki’ tubuh (berdasar Q.S. Al-Isra’ [17]: 32).
Menurut WHO (2011) Pencegahan Individu dapat mengurangi risiko infeksi HIV dengan membatasi paparan faktor risiko. Pendekatan kunci untuk pencegahan HIV:
1. Penggunaan kondom (tidak mengarah pada pengertian peng-legalan zinah (free sex).
2. Pengujian dan konseling untuk HIV dan IMS (infeksi menular seksual)
3. Pra-pajanan untuk pasangan HIV-negatif
4. Profilaksis pasca pajanan HIV
5. Pria disunat (mengurangi risiko infeksi HIV melalui hubungan heteroseksual pada pria sekitar 60%).
6. Penghapusan penularan HIV dari ibu-ke-bayi
7. ART (antiretroviral therapy)
8. Pengurangan dampak buruk bagi pengguna Injecting Drug User (IDU)

Aksi bagi-bagi kondom dan aksi-aksi lainnya yang sejenis tentu saja ada baiknya. Tapi bila tidak tepat porsinya, justru akan dinggap melegalkan perzinahan dan pada gilirannya malah akan menumbuhsuburkan perilaku seks menyimpang. Padahal inilah biang kerok melebarnya penyebaran HIV yang berdampak mewabahnya AIDS (Sulistyorini, 2011).

by UKM ROHIS AR-RAHMAN UNIVERSITAS JAMBI

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in seruan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s