Ia Ber-perikebeningan

Air Tak Letih.
Tak letih menyeruput segelas dirinya.
Air untukku.
Bening airnya.
Air yang berperi-kebeningan.
Aroma khas yang berperi-kearomaan.
Tiadalah ucapannya selain “ku berikan untuk mu”.
Padahal aku menodainya,
dengan sampah seolah berkembangbiak,
di Sungai, layar sampah terkembang,
di Danau, sesekali sampah menepi,
di Laut dan,
di mana pun.

Saat akhir titik kritis menjelma menjadi musuh.
Bukan karena niatnya untuk memusuhi.
Dasar aku, tak berperi-keairan.
Sementara ia masih memberiku minum,
dengan air bening berperi-kebeningan.

Kini aku tenggelam dalam larutan hara.
Mendalam.
Semakin dalam.
Dan semakin dalam.
Maafkan aku..
Dan aku mulai semangat menghirup air..

Karya: Mahendra (24 Desember 2010)

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in puisi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s