Rekayasa genetika jadi alternatif antisipasi musim

FAO akan memfasilitasi penelitian pangan hasil rekayasa genetika sebagai salah satu alternatif adaptasi perubahan musim yang berakibat kepada penurunan produksi pangan.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan upaya tersebut menjadi pembahasan dalam Food Agriculture Organization (FAO) Regional Conference for Asia and Pacific di Korea Selatan.

“Ke depan, rekayasa genetika akan menjadi salah satu alternatif. Namun saat ini masih dijadikan penelitian termasuk dampak kepada kesehatan manusia,” ujarnya seusai mengikuti lawatan ke Korea Selatan dan China, kemarin.

Upaya yang dilakukan oleh FAO itu diambil karena seluruh dunia sedang menghadapi ancaman perubahan iklim yang tidak menentu.

Dalam pertemuan di Korea tersebut diketahui bahwa negara anggota melaporkan produksi pangan yang menurun. “Termasuk produksi nonberas.”

Karena itu, kata Suswono, semua kemungkinan untuk mengadaptasi perubahan musim akan dikaji. Meski begitu terkait dengan upaya rekayasa genetik itu, belum akan diputuskan penggunaannya.

Menurut Mentan, masih perlu waktu dan juga menunggu hasil kajian dari FAO. “Perlu juga dilihat bahwa sebenarnya kedelai impor itu sudah menggunakan rekayasa genetik. Tapi giliran kapas yang tidak dikonsumsi, dikembangkan dengan rekayasa genetik banyak yang protes.”

Saat ini, lanjut Suswono, di Indonesia juga sudah ada Komisi Keamanan Hayati yang akan melakukan penelitian menyeluruh mengenai produk pangan untuk masyarakat.

Ketua Umum Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Elda D. Adiningrat baru-baru ini menilai diperlukan kesiapan berbagai unsur sebelum dilakukannya pengembangan benih transgenik di Indonesia.

Kesiapan tersebut, seperti di bidang perangkat hukum, sumber daya manusia, ilmu dan teknologinya, maupun sosalisasi ke masyarakat.

“Untuk mencapai kesiapan tersebut, diperlukan waktu lebih dari 3 tahun sebelumnya akhirnya benar-benar pengembangan benih transgenik dilakukan di sini.”

Namun demikian, kata Elda, diperlukan ketegasan pemerintah untuk menyatakan kesiapan Indonesia dalam penerimaan teknologi rekayasa genetika selain itu memberikan bimbingan kepada produsen benih guna memproduksi benih transgenik.

“Yang paling penting adalah adanya peraturan yang mendukung pengembangan dari benih transgenik itu,” ujarnya.

Sengon transgenik

Sementara itu, fasilitas uji terbatas Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menghasilkan tanaman sengon (albazia falcataria) transgenik pertama di dunia.

“Insersi gen xyloglucanase telah berhasil dilakukan ke dalam tanaman sengon,” kata peneliti bioteknologi LIPI Enny Sudarmonowati.

Tanaman sengon transgenik yang mengandung gen xyloglucanase terbukti tumbuh lebih cepat dan mengandung selulosa lebih tinggi dari pada tanaman kontrol di fasilitas uji terbatas (FUT) sehingga berpotensi tumbuh lebih cepat saat dipindah dari FUT ke lapangan.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa kayu sengon bernilai ekonomis yang digunakan untuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, perabotan rumah tangga, pagar, hingga pulp dan kertas.

Di sisi lain juga memiliki keunggulan akar tunggangnya yang kuat sehingga baik ditanam di tepi kawasan yang mudah terkena erosi dan menjadi salah satu kebijakan pemerintah (Sengonisasi) di sekitar daerah aliran sungai (DAS).

Enny menambahkan dengan insersi gen tersebut tanaman sengon ini juga lebih mudah dihidrolisis dan menghasilkan ethanol lebih tinggi.

Enny Sudormonowati. 2010. Rekayasa Genetika jadi Alternatif Antisipasi Musim.Diakses 30 Januari 2011. http://www.lipi.go.id.

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s