Forensik Menggunakan Teknologi DNA

Teknologi DNA Menawarkan Aplikasi bagi Kepentingan Forensik

Pada kriminalitas dengan kekerasan, darah atau jaringan lain dalam jumlah kecil dapat tertinggal di tempat kejadian perkara (TKP) atau pada pakaian atau barang-barang lain milik korban atau penyerangnya. Jika ada perkosaan, air mani dalam jumlah kacil dapat ditemukan dari tubuh korban. Jika jaringan atau air mani cukup tersedia, maka laboratorium forensik dapat menentukan jenis darah atau jenis jaringan dengan menggunakan antibodi untuk menguji protein permukaan-sel yang spesifik. Akan tetapi, pengujian seperti ini membutuhkan jaringan yang agak segar dalam jumlah yang relatif banyak. Selain itu, karena terdapat banyak orang dalam populasi dengan jenis darah autau jaringan yang sama, pendekatan ini tidak dapat memberikan bukti kuat tentang pelakunya.

Di lain pihak, pengujian DNA dapat mengidentifikasi pelaku dengan derjat kepasian yang jauh lebih tinggi, karena urutan DNA setiap orang itu unik (kecuali untuk kembar identik). Analisis RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism) dengan Southern blotting merupakan mtode ampuh untuk pendeteksian kemiripan dan prbedaan sampel DNA dan hanya embutuhkan darah atau jaringan lain dalam jumlah yang sangat sedikit (kira-kira 1.000 sel). Misalnya, dalam kasus pembunuhan metode ini dapat digunakan untuk membandingkan sampel DNA dari tersangka, korban, dan sedikit darah yang dijumpai di TKP. Probe radioaktfi menandai pita elektroforesis yang mengandung penanda RFLP tertentu. Biasanya saintis forensik menguji kira-kira lima penanda; dengan kata lain hanya beberapa bagian DNA yang diuji. Akan tetapi, rangkaian penanda dari suatu individu yang demikian sedikit pun sudah dapat memberikan sidikjari DNA, atau ola pita spesifik yang berguna untuk forensik karena probabilitas bahwa dua orang (yang bukan kembar identik) akan memiliki rangkaian  penanda RFLP yang tepat sama adalah sangat kecil.

Saat ini, sebagai ganti RFLP, variasi dalam panjang DNA satelit semakin banyak digunakan sebagai penanda untuk penyidikjarian DNA. Bahwa DNA satlit terdiri atas urutan basa yang berulang secara tandem (berurut) di dalam genomnya. Urutan satelit yang beranfaat untuk keperluan forensik ialah mikrosatelit yang panjangnya kira-kira 10-100 passangan basa, yang memiliki unit berulang hanya beberapa pasangan basa, dan yang sangat  bervariasidari satu orang ke orang yang lain. Misalnya satu individu dapat saja memiliki unit ACA yang berulang 65 kali pada satu lokus genom, 118 kali pada lokus kedua, dan seterusnya, sementara individu lain agaknya akan memiliki jumlah perulangan yang berbeda pada lokus-lokus tersebut. Lokus genetik polimorfik tersebut biasanya disebut perulangan tandem sederhana (STR—Simple Tandem Repeat). Fragmen retriksi yang mengandung STR bervariasi ukurannya di antara individu-individu karena perbedaan dalam panjang STR, dan bukannya disebbkan oleh perbedaan jumlah tempat retriksi di dalam daerah genom, seperti dalam analisis RFLP. Semakin banyak penanda yang diperiksa dalam suatu sampel DNA akan semakin unik sidikjari DNA menggambarkan satu individu. PCR (Polymerase Chain Reaction—Reaksi Rantai Polimerase) sering digunakan untuk secara selektif memperkuat STR tertentu atau penanda                                                                                   lain sebelum elektroforesis. Karena kekuatan  selektifnya, PCR sangat bernilai apabila DNA-nya dalam keadaan buruk atau tersedia hanya dalam jumlah yang sangat kecil. Sampel jaringan sekecil 20 sel sudah mencukupi untuk PCR.

Bgaimanakah keandalan sidikjari DNA ini? Sidikjari DNA seseorang akan bear-benar unik jika memang layak untuk meakukan analisis fragmen retriksi pada seluruh enom orang tersebut. Pada prakteknya, seperti yang telah dijelaskan, pengujian sidijjari DNA berfokus hanya pada kira-kira lima daerah yang sangat kecil dari suatu genom. Akan tetapi, daerag DNA yang dipilih meruakan daerah yang diketahui sangat bervariasi dari satu orang ke orang lainnya. Pada sebagian kasus forensik, robabilitas dua orang memiliki sidikjari DNA yang sama ialah antara satu dlam 100.000 hingga satu dalam satu miliar. Angka yang tepat tergantung pada jumlah penanda yang dibandingkan dan pada frekuensi penanda ini dalam populasinya. Informasi tentang bagaimana berbagai penanda yang sama berada dalam kelompok etnik yang berbeda adalah merupakan kuncinyakarena frekuensi penanda ini dapat sangat berbeda dari frekuensi pada populasi itu secara keseluruhan. Data seperi ini sekarang telah membuat para saintis dapat membuat  perhitungan statistik yang sangat akurat. Dengan demikian, meskipun ada masalah-masalah yang timbul dari data statistik yang tidak mencukupi, kesaahan manusia (human error), atau bukti cacat, sidikjari DNA sekarang diterima sebagai bukti penguat oleh pakar hukum dan saintis sejenis. Banyak argumentasi mengatakan bahwa bukti DNA lebih handal daripada saksi mata dalam menempatkan tersangka pada TKP. Pengadilan pembunuhan O.J. Simpson pada tahun 1995 membuat sidikjari DNA menjadi istilah rumahtangga, dan jenis bukti ini akan memiliki dampak forensik yang menngkat (Campbell et al., 2004: 407-408).

Campbell, N.A, Reece J. B., Mitchell, L. G, 2004. Biologi, edisi-5, Jilid 1, Terjemahan Wasmen Manalu, Erlangga, Jakarta.

Post by Mahendra

 

Pengumuman: Ayo ikuti Lomba “TOYOTA SEO AWARD”, menangkan hadiah jutaan rupiah!! klik http://www.toyota.astra.co.id

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in Artikel and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s