DEMAM SEBAGAI OBAT

Mahendra Pendidikan Biologi UNJA

DEMAM SEBAGAI OBAT

Kalau seorang pasien menderita demam, kebanyakan dokter akan memberi obat yang bisa menurunkan suhu. Menurut hasil penyelidikan medis terakhir mereka sedikit-sedikitnya tidak berbuat benar. Percobaan dengan demam buatan telah memperkuat thesa bahwa demam bisa menjadi senjata organisme dan penting untuk memobilisir semua kekuatan untuk menghalau tamu tak diundang dalam tubuh. Kalau seorang dokter memerangi demam penyakit, ia malahan, memberi angin kepada musuh organisme dan memperbesar kesempatan hidupnya. Demikian menurut Professor Otto Westphal dan Dr Ernst Rietschel dari Lembaga Max Planck untuk Immunbiologi di Freiburg.

Kedua hahli itu menangkan pendapat mereka sebagai berikut: Kami tahu bahwa demam bisa mempengaruhi infeksi dengan beberapa cara. Di satu phak demam mungkin bisa mengaktivir kekuatan penolakan tubuh sendiri. Kalau suhu naik rupanya phagocytes (bagian dari darah yang khusus menghancurkan penyebab penyakit) bisa bekerja dengan lebih baik dan pembunuhan mikroba dalam sel mungkin bisa dilakukan dengan lebih cepat. Selain itu suhu tinggi juga mempercepat pembentukan zat penolakann penyakit dalam tubuh.

Selain itu demam juga bisa langsung memerangi tamu ynag tak diundang itu. Penyebab syphilis dan gonorrhoe misalnya akan mati pada suhu 40 sampai 42 derajat. Bakteri-bakteri lain juga ada yang pada suhu itnggi lebih peka terhadap chemoterapeutika dan antibiotika.

Apa yang dikatakan Professor Westphal dan Dr. Rietschel tentang demam itu penting sekali. Karena di bawah impinan mereka selama tahun-tahun terakhir ini sebuah eam dari Maxplanck untuk immubiologi berhasil menerangkan sruktur kimiawi dari bahan yang dikeluarkan oleh bakteri pendatang dan menyebabkan si pasien  menderita demam. Bahan yang disebut “Lipoid A” itu merupakan komponen sejenis lemak yang dibetuk dengan prinsip yang tidak biasa dalam alam.

Sepersejuta gram ‘Lipoid A” yan dinjeksikan dalam pembuluh darah seseorang, bisa menyebabkan demam tinggi singkat. Reaksi ini jug disebut demam steril atau demam buatan.

Dalam riset itupara ahli dari Freiburg juga ingin menyelidiki bagaimana demam itu bisa terjadi. Untuk mengetahui hal itu orang harus tahu bagaimana tubuh mengatur suhunya.

*Di tengah kepala, ada pusat pengatur suhu tubuh.tugasnya iaah untuk menjaga sedapat mungkin agar darah suhunya tetap 37 derajat celcius.

* Tugasnya persis menurut prinsip thermostatdalam alat pengatur suhu. Pusat pemanasan itu terus mengukur suhu dari darah yang lewat. Kalau dikonstatir adanya perubahan  ia langsung mengambil tindkan. Kalau darah terlalu dingin otot dan hati harus memrodusir panas tambahan. Kalu terlalu panas suhu diusahakan untuk turun dengan berkeringat.

* kalu sedang demam “thermostat” dalam otak itu stelannya agak tinggi. Suhu normal 37 derajat dianggap terlalu dingin. Karena itu tubuh diperintahkan memprodusir labih banyak panas, antara lain dengan cara “menggigil”.

Sekarang belum bisa diterangkan mengapa thermostat dalam otak itu tiba-tiba stelannya lebih tinggi. Para ahli dari Lembaga Max Planck itu kini menerangkan hal itu dengan teori baru.

* kalau bakteri atau bahan peneyebab demam itu masuk dalam saluran darah, mereka disambut oleh sel darah putih dan sel hati yan angsung melahap mereka.

* Selama sel-sel phagocytes itu memusnahkan penyebab penyakit itu mereka engeluarkan bahan zat putih telur tertentu. Dengan saluran darah bahan ini masuk pusat pengatur suhu otak dan disitu mereka memberi alarm “demam”. Abhan ini juga berarti “bahana penyebab demam yang dibuat oleh tubuh sendiri.”

Dalam keadaanl ini demam memobilisir kekuatan pertahanannya untuk menggempur penyebab penyait yang masuk. Dengan cara ini ia berusaha untuk menyembuhkan diri sediri. Hal ini sudah dimanfaatkan para dokter sebelum Masehi. Menurut Hippokrates dari Yunani penyakit chronis seperti asthma dan penyakit kulit bisa tiba-tiba sembuh kalau pasien demam.

Beberapa abad kemuidan para dokter menganggap demam sebagi “alat paling bahagia dari dokter”. Namun kemudian datang jaman Renaissance. Sejak itu para dokter menganggap perlu untuk enurunkan suhu demam itu secepat mungkin. Hal itu tidak berubah sampkni syai sekarang biarpun ada doktr yang telah menemukan kembali demam sebagai obat. Pada tahun 1927 dokter itu telah menerima hadiah Nobel.

Dr. Julius Wagner Ritter dari Jauregg dekat Wina telah membuat demam buatan pada pasiennya. Pada akhir abad yang lalu ia memanfaatkan hasil typhus yang sudah dimatikan untuk mencapai tujuannya. Sejak 1919 ia menggunakan penyebab malaria. Hasilnya memang memuaskan. Dengan bantuan demambuatan itu penyakit kelain ynag paling ditakuti, syphils dan gonorrhoe berhasil dirawat dengan baik. Demikian pula beberapa bentuk penyakit mental.

Dengan penemuan bahan penyebab demam “Lipoid A” oleh Professor Otto Westphal dan Dr. Ernst Rietschel dkk., teori pengobatan dengan demam itu mendapat angin baru.

Juga pemenang hadiah Nobel kedokteran Prancis Andre Lwoff telah mengingatkan kepada para dokter di seluruh dunia bahwa banak virus penebab penyakit sangat peka terhadap demam. Ini termasuk penyebab polio, cacar dan beberapa jenis peyakit pilek.beberapa virus ini sudah tidak bisa berkembang lagi pada suhu 40 OC sampai 42  OC. Dengan demikian juga tidak berbahaya lagi.

Mungkin di masa depan orang yang sedang flu, demam Si Pasien tidak akan diturunkan, tetapi malahan dinaikkan secara buatan agar si pasien cepat sehat kembali. [Quick No. 14 tahun 1976] (Majalah … September 1976)

Post By Mahendra

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in Artikel and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s