Sambil Menyelam Minum Air ala Developer Property

PENATAAN RUANG DAN PERTANAHAN

Sambil Menyelam Minum Air ala Developer Property

Oleh: Mahendra_A1C408030 (Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi)

Indonesia merupakan negara nomor tiga di dunia yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati (biodiversity) paling tinggi setelah Brazil dan Zaire. Hal tersebut dikarenakan Indonesia yang memiliki luas wilayah hanya 1,3% permukaan bumi, tetapi di dalamnya terdapat 10% spesies tumbuhan berbunga di dunia, 12% spesies mamalia di dunia, 16% spesies reptil dan amfibia di dunia, 17% spesies unggas di dunia dan lebih dari 25% spesies ikan di dunia. Kondisi demikian menjadikan Indonesia saat ini memang layak untuk dikatakan sebagai Negara yang kaya sumber daya alam hayatinya. Meskipun demikian, suatu hari tidak mustahil peringkat Indonesia akan terus menurun manakala tidak ada upaya serius untuk mengelola dan melestarikan keanekaragaman hayati ini.

Selanjutnya manusia sebagai makhluk terpintar di antara makhluk lainnya perlu pengelolaan ruang agar tidak mengganggu habitat  organisme selain manusia. Dan agar Indonesia tetap mampu menjaga biodiversity-nya.

Penataan ruang di Indonesia bisa mengacu pada bisnis property. Pelaku usaha, developer property dapat berkontribusi terhadap keindahan tata ruang suatu daerah. Diperlukan kombinasi ekstra kerja keras antara pengusaha, kontraktor dan pemilik tanah serta pejabat pembuat sertifikat tanah dalam keberhasilan pembangunan dengan cepat.

Hal di atas bisa menjadi landasan bagi siapa saja yang berniat membangun negeri dengan tata ruang yang teratur. Mari berhitung, anggap pengusaha yang berjumlah 10.000 orang PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang berasas persaudaraan tinggi masing-masing mengumpulkan uang tabungan mereka Rp 3.000.000 maka akan muncul dana sebesar Rp 30.000.000.000―perhitungannya 10.000 x Rp 3.000.000 = Rp 30.000.000.000.

Dana Rp 30.000.000.000 jika bekerja sama dengan pemerintah memungkinkan menjadi Rp 100.000.000.000 jika pemerintah mengusahakan dana sebesar 70.000.000.000 sebagai modal usaha yang nantinya untuk pembayaran utang luar negeri atau keperluan lain. Tentu Indonesia tidak ingin mewariskan utang setiap kali pemimpin negara atau daerah berganti pada periode berikutnya. Benar, bukan?

Prinsip laba dari usaha tersebut salah satunya adalah bahwa tanah semakin tahun semakin tinggi harganya. Karena itu dapat memaksimalkan keuntungan antara kontraktor, developer property, pemilik tanah, notaris dan pemerintah. Seyogiyanya pelaku usaha sambil menyelam minum air. Sambil menjalankan bisnis property sekalian menciptakan wilayah yang rapi. Benar, bukan?

Keuntungan bagi masyarakat adalah mendapatkan rumah yang berkualitas. Bagi suatu daerah mendapatkan citra pembangunan yang mewah. Sebenarnya tidak mewah, tapi karena tertata rapi dan indah seolah kesederhanaan “berjubah” kemewahan. Konsepnya, rapi dan indah itu “enak” dipandang. Apalagi bila “dibubuhi” kesan hijau dari rindangnya pepohonan.

Tentunya proyek ini dibangun pada lahan kosong, bukan menggusur perumahan yang telah ada. Mengingat dan menimbang penduduk yang semakin tinggi jumlahnya layaklah diberi akses kemudahan mendapatkan rumah sesuai penghasilan penduduk. Yang kata orang ekonomi, harga bersahabat.

Setiap pembangunan selalu dikaitkan dengan kerawanan terhadap penurunan keanekaragaman kehidupan di bumi dengan terjadinya kepunahan spesies tertentu. Neil A. Campbell dkk. (2004: 413) menyebutkan salah satu poin penting dalam tema biologi konservasi―secara global laju kepunahan spesies bisa sebesar 50 kali lebih tinggi dibandingkan dengan laju yang terjadi kapan pun dalam 100.000 tahun terakhir. Hal ini sudah disebutkan tadi solusinya dengan pemilihan lokasi strategis di luar habitat hewan-hewan langka atau di luar hutan yang dilindungi, intinya tidak membangun perumahan di kawasan milik organisme yang di dalamnya hidup tenang dan damai―misal, Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae).

Proyek ini memang tidak mudah untuk dijalankan. Siapa bilang mudah? Tapi segalanya tidak ada yang tidak membutuhkan kerja keras. Tidak ada.

Siapa yang ingin bermitra membangun negeri?

(Ditulis 31 Mei 2010)

Referensi

Anonim. 2010. “Sebelum Ajal Sempat Cium Istri: Sulaiman Tewas Diterkam

Harimau”. Dalam Tribun Jambi, 14 Mei 2010. Jambi.

Campbell, N. A. dkk. 2004. Biologi. Jilid 2. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Propertyplus Indonesia. … Media Internal. Edisi Kelima. Yogyakarta

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in Karya Tulis and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s