Negara Maju (Pengakal) Gencar Memproduksi Motor, Indonesia Diminta Menanam Banyak Pohon

Negara Maju (Pengakal) Gencar Memproduksi Motor, Indonesia Diminta Menanam Banyak Pohon

IMPLIKASI UU NO. 32 TAHUN 2009
Negara Maju (Pengakal) Gencar Memproduksi Motor, Indonesia Diminta Menanam Banyak Pohon

Oleh: Mahendra_A1C408030 (Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi)

Tersebut dalam Koran Tribun Jambi, “upaya Putera Mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles untuk menjadikan kawasan hutan restorasi di Jambi menjadi sia-sia. Hutan seluas 48 ribu hektar, ditebangi pembalak liar. Bahkan, warga kini memperjualbelikan hutan itu kepada cukong perkebunan sawit”. Suatu topik, “Cicak” versus “Buaya”. Versus di sini diartikan sebagai tindak pertandingan memperkaya diri tanpa konsep kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup.
Sungguh menyedihkan, itulah kalimat yang “terhembus” dari “nafas” kita. Padahal hutan adalah seperangkat “software” yang membersihkan udara kotor yang kaya karbondioksida menjadi udara bersih yang kaya oksigen. Manusia, “hardware” yang sikapnya menentukan mau jadi apa lingkungannya. Cuma dua pilihan, lingkungan lestari atau bencana. Jika memilih bencana artinya cerminan dari ketidakpatuhan terhadap UU No. 32 Tahun 2009 Pasal 10 ayat 2, dalam penyusunan rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (RPPLH) salah satu keyword-nya adalah memperhatikan kearifan lokal.
Masyarakat yang merambah hutan yang berada di kawasan eks HPH Asialog di desa Bungku Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari seperti yang dikabarkan oleh Tribun Jambi beberapa hari yang lalu mencerminkan pengelolaan lingkungan hidup yang tidak benar. Hanya untuk kepentingan pribadi. Harus dihentikan manuver para pembalak liar itu. tiada lain, melainkan dengan kekuatan hukum.
Barangkali terdapat indikasi, negara-negara “maju” yang terus memproduksi kendaraan bermotor “mengakali” dengan menginstruksikan agar setiap orang melestarikan hutan di negara-negara manapun yang diduga kuat maksud utama penyampaiannya adalah kepada negara-negara berkembang seperti Indonesia. Wajar jika mereka negara maju rela “mengucurkan” dana besar untuk restorasi hutan, sementara di negara “maju” lahan hutannya sempit atau tanahnya tidak cocok untuk pertumbuhan vegetasi hutan.
Menurut Goldsmith (1973), bahwa makin jelaslah, teknologi mengingat sifatya haruslah menyebabkan masalah. Sebab teknologi itu mengganti “biosfer” yang sangat halus dan terkait pada pemeliharaan stabilitas jangka panjang, yaitu kelangsungan hidup, dengan “teknosfer” yang relatif kasar yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek manusia. Pergantian demikian itu dapat ditolerir selama terjadi pada skala kecil. Tetapi apabila dilakukan secara luas akan menjadi tidak tertolerir yang akhirnya akan membawa manusia pada kehancuran (Soemarwoto, 1999). Negara-negara maju menyadari hal ini, mereka benar-benar tahu teknologi memiliki efek samping yang menjurus pada global warming melalui gas-gas rumah kaca dari banyaknya industri mereka. Karena itu mereka mengajak seluruh penduduk untuk melestarikan lingkungan terutama hutan. Sungguh “pengakal”, negara-negara “maju” masih terus menciptakan teknologi-teknologi yang belum tentu ramah lingkungan.
Ternyata kita bangsa Indonesia menyadari pentingnya kelestarian lingkungan, namun barangkali belum dalam hal upaya yang real. Kita harus melakukan hal yang bertolak belakang dengan kalimat yang disampaikan Neil A. Campbell dkk. (2004:413) dalam buku yang berjudul Biologi: di seluruh biosfer, aktivitas manusia mengubah struktur trofik, aliran energi, siklus bahan kimia dan agangguan alamiah (proses-proses ekositem yang merupakan tempat kita dan spesies lain bergantung).
Barangkali Pangeran Charles yang datang ke Jambi sebagai wujud bias wakil industri “berbalut” politik negara-negara “maju”. Dengan begitu, negara maju tetap dapat menetralisir gas-gas buangan dari industri yang mereka bangun dan tumbuhkembangkan.
Yang membeli hasil-hasil industri mereka di antaranya negara-negara berkembang. Contohnya Indonesia. Terlepas dari dugaan terhadap negara maju, kita bisa berpikir cerdas, bahkan “mengakali” negara “maju”.
Pemerintah harus menelurkan aturan baru, di mana pemakaian kendaraan bermotor diperkecil dengan alternatif menggunakan sepeda untuk jarak tempuh rata-rata yang disanggupi manusia. Artinya, jika tidak mampu menempuh jarak tertentu baru diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor.
Di perkotaan, harus diintensifkan pembangunan transportasi umum/angkutan kota. Biaya menggunakan angkutan kota bagi masyarakat relatif lebih murah. Selain itu, dapat menambah lowongan kerja bagi para tamatan SD, SMP, SMA atauyang sederajat bahkan yang tidak pernah bersekolah sekalipun karena “hanya” memerlukan keterampilan mengemudi.
Pertanyaan muncul. Siapa yang mengawasi aturan tersebut? Tentunya masyarakat keseluruhan. Apakah dalam aturan itu dapat diaplikasikan secara maksimal? Jawabannya adalah tergantung kesadaran masyarakat tentang penghematan energi. Karenanya, perlu diadakan sosialisasi yang tepat mengena tujuan dan manfaat dari penghematan energi. Dengan begitu emisi dapat diperkecil. Kita perlahan mengaplikasikan ideologi nasional sebagai wawasan, pandangan hidup (falsafah kebangsaan dan kenegaraan) sebagai “petarung tangguh” menghadapi bermacam persoalan kebangsaan dan kenegaraan. Ideologi kita sebenarnya sudah menjadi budi luhur nenek moyang bangsa Indonesia yaitu sikap berhemat yang merupakan refleksi dari sila pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita tidak dianjurkan untuk berlaku boros dalam kehidupan sehari-hari. Lagi-lagi, hemat adalah solusi dari banyak permasalahan sumber energi dan cara mengurangi kadar gas-gas rumah kaca di atmosfer―misal, CO2 dan CO.
Memang globalisasi terjadi karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang membangun ilmu pengetahuan dan teknologi canggih sebagai contoh terciptanya kendaraan bermotor. Kita tidak bisa menutup diri dari globalisasi karena menyebabkan kita “ketinggalan”. Sebagai solusi terhadap pemanasan global adalah berlaku hemat dan bijaksana dalam menggunakan energi.
Sebagai penutup, kita bangsa Indonesia dapat menunjukkan dan memberdayakan potensi lokal kita, yaitu rasa sadar pentingnya kelestarian lingkungan. Praktis diperlihatkan oleh warga Jawa-Bali yang ternyata mampu menghemat listrik hingga 811 Megawatt dalam aksi Earth Hour yaitu istilah aksi global pada malam hari untuk mematikan listrik selama satu jam pada tanggal 27 Maret 2010, hari Sabtu.
(Ditulis 31 Mei 2010)

Referensi
Anonim. 2010. “Hutan Restorasi Dirusak”. Dalam Tribun Jambi, 24 Mei 2010. Jambi
ANTARA. 2010. Earth Hour Hemat 811 Megawatt Listrik. Jakarta. [Diakses pada 29
Maret 2010]
Campbell, N. A. dkk. 2004. Biologi. Jilid 2. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Liputan6. 2010a. Monas Gelap Gulita Dukung Earth Hour. Jakarta. [Diakses pada 27
Maret 2010]
Liputan6. 2010b. Ratusan Lilin Terangi Kota Yogyakarta. Yogyakarta. [Diakses pada
27 Maret 2010]
Soemarwoto, Otto. 1999. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in Karya Tulis and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s