Matikan Listrik untuk Membayar Utang Luar Negeri

REFORMASI BIROKRASI UNTUK LINGKUNGAN HIDUP
Matikan Listrik untuk Membayar Utang Luar Negeri
Oleh: Mahendra_A1C408030 (Mahasiswa FKIP Universitas Jambi)

Kita sering membicarakan “belanja” dan “penghasilan” dalam rumah tangga. Ayah dan atau ibu membelanjakan uangnya untuk keperluan sehari-hari anak-anaknya dengan pertimbangan jumlah penghasilan. Mahasiswa yang masih bergantung kepada penghasilan juga mengikuti hukum “belanja” dan “penghasilan”. Kita selalu mengusahakan agar belanja satu bulan tidak lebih dari jatah yang diberikan oleh orang tua. Satu contoh lagi, pengamen yang populer dengan nama anak jalanan―yang sebenarnya dipelihara oleh negara, mengusahakan agar belanjanya tidak lebih dari penghasilannya.
Saat ini di Jambi dalam masa sosialisasi dalam rangka pemilihan kepala daerah periode 2010-2015, maraknya sosialisasi hingga foto-foto calon gubernur Jambi dipampang di gerobak seorang pekerja (buruh). Barangkali seseorang itu mendukung calon gubernur itu. Mungkin juga dia tidak mengetahui bahwa utang luar negeri Indonesia sampai akhir Maret 2010 mencapai 180,7 Milyar dolar AS atau setara Rp 1.628,4 triliun dengan patokan kurs Rp 9.012 per dolar AS. Jumlah tersebut melebihi total nilai Anggaran Pendapatan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2010 yang diproyeksikan sebesar Rp 1.123 triliun.
Utang negara berarti utang bersama baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah―masyarakat Indonesia seutuhnya. Pertanyaannya, apakah semua berpikir untuk membayar utang? Atau rakyat saja yang terpikir, dan barangkali negara saja yang tepikir. Salah satu solusinya adalah berhemat uang belanja, dan meningkatkan produksi yang dapat menambah penghasilan.
PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) berhasil membukukan pertumbuhan keuntungan 18,87% pada triwulan I 2010, dari Rp 780,48 miliar pada periode yang sama pada tahun 2009 naik menjadi Rp 927,78 miliar, padahal di tengah-tengah tekanan terhadap industri rokok dalam negeri. Adalah suatu kesuksesan mengelola sumber daya alam―pengelolaan tembakau. Namun tetap saja jika semakin banyak masyarakat yang merokok semakin banyak pula masyarakat yang rentan terhadap penyakit jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan lain-lain.
Sayang, di balik kesuksesan itu, sebenarnya banyak orang yang rugi. Yang namanya merokok adalah mengganggu kesehatan termasuk lah orang yang tidak merokok yang terhisap asap rokok dari orang lain yang merokok. Seperti yang telah disebutkan di atas, solusi konkret permasalahan utang luar negeri yang “membengkak” sama halnya dengan berhemat menggunakan energi seperti yang dilakukan saudara-saudara kita se Jawa dan Bali dalam mematikan listrik selama satu jam membukukan catatan menghemat listrik hingga 811 Megawatt.
WWF-Indonesia menyatakan jika 10% penduduk Jakarta mendukung aksi tersebut yang distilahkan dengan Earth Hour, maka bisa menghemat listrik sebesar 300 Megawatt, bisa mematikan satu pembangkit listrik, hemat 267 ton karbondioksida, dan hemat lebih dari 267 pohon, dan oksigen untuk lebih dari 535 orang, serta menghemat biaya hingga Rp 200 juta. Jumlah yang fantastis.
Dengan berhemat, misal setiap minggu selama 24 jam listrik dimatikan maka menghemat listrik hingga 19.464 Megawatt―perhitungannya satu jam hemat 811 Megawatt. Bila 10% penduduk Jakarta melaksanakan pemadaman listrik 24 jam per minggu maka menghemat biaya hingga Rp 4,8 miliar―perhitungannya satu jam hemat Rp 200 juta. Bagaimana jika dilakukan juga oleh Provinsi lain? Bagaimana bila diikuti 30% penduduk Indonesia? Penghematan yang fantastis. Sungguh fantastis.
Sebenarnya dengan berhemat, baik negara maupun masyarakat dapat mengalihkan biaya ke pembayaran utang luar negeri Indonesia. Tentu muncul suatu harapan agar penghematan berjalan lancar dengan kesadaran masyarakat itu sendiri. Sekali lagi, semua tinggal kesadaran dalam pelaksanaannya.
Membayar utang untuk kehidupan lebih baik. Inilah gerakan reformasi yang bisa diikuti setiap orang terlebih suatu birokrasi.
(Ditulis 31 Mei 2010, Jambi)

Referensi
Anonim. 2010. “Utang Luar Negeri RI Melonjak”. Dalam Tribun Jambi, 1 Mei 2010.
Jambi
ANTARA. 2010. Earth Hour Hemat 811 Megawatt Listrik. Jakarta. [Diakses pada 29
Maret 2010]

Advertisements

About mahendros

jangan lupa, usahakan disiplin
This entry was posted in Karya Tulis and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s