Aksi Bela Islam di Merangin (411)

20161104_140904

#penjarakanahok

Posted in Foto, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Gabung ke Cendikia Course Yuk!

cc17

Image | Posted on by | Tagged , | Leave a comment

Mari, Join Cendikia Course Merangin

cendikia-course

Image | Posted on by | Tagged , , | Leave a comment

Soal Prediksi Biologi TKD Saintek SBMPTN 2016

Yuk kita belajar, kita persiapkan diri menghadapi SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2016 ini. Jika kamu tidak tahan lelahnya belajar maka kamu harus tahan menanggung perihnya kebodohan. Berikut prediksi saya untuk soal biologi TKD (Tes Kemampuan Dasar) Saintek (Sains dan Teknologi) SBMPTN 2016.

prediksi sbmptn biologi 2016

Kunci prediksi sbmptn 2016 biologi

Posted in KUMPULAN SOAL BIOLOGI, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Soal Prediksi UN Biologi 2016

Yuk kita latihan mengerjakan soal prediksi UN yang saya buat. Semoga cukup membantu! download aja link di bawah ini ya untuk mendapatkan naskah soalnya!

soal prediksi un 2016 biologi mahendra

Posted in Uncategorized | Leave a comment

2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 830 times in 2015. If it were a cable car, it would take about 14 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Presiden Jokowi dan Raja Purnawarman: Tantangan dan Pelajaran

Replika Prasasti Ciaruteun (from Museum Nasional) Replika Prasasti Ciaruteun (from Museum Nasional)

Untuk meningkatkan minat terhadap sejarah salah satu strateginya adalah merenovasi museum nasional menjadi lebih menarik hingga dapat meningkatkan jumlah pengunjungnya, bahkan mungkin saja mampu menyaingi jumlah pengunjung mall, supermarket dan yang sejenisnya. Itu bukan tidak mungkin jika diseriusi dan gigih.Setidak-tidaknya renovasi museum nasional itu menunjukkan bahwa sejarah itu sangat penting karena ia selain menjadi objek wisata, ia juga menjadi pelajaran dan inspirasi.

Sebentar lagi usia pemerintahan eksekutif RI genap menjadi satu tahun, semenjak dilantik 20 Oktober tahun lalu. Membandingkan dengan eksekutif-eksekutif sebelumnya bukan berarti tak bermanfaat sama sekali, tapi dengan membandingkan maka dapat menjadi pelajaran dan tantangan. Tidak perlu membela diri atas ketidakmampuanPresiden masa kini dalam menggapai prestasi selayaknya kaum zaman dulu. Maka,saya mencoba mengaitkan Tarumanegara dengan eksekutif masa kini.

Kata “taruma” berhubungan dengan kata “tarum” yang artinya biru. Hingga sekarang nama “taruma” masih digunakan sebagai nama sungai, yaitu Citarum (ci adalah sungai). Tarumanegara didirikan pada abad ke-4 Masehi, rajanya yang pertama adalah Jayasingawarman yang memerintah sejak 358 sampai 382 Masehi (42 tahun).

Tarumanegra sepanjang nama dan wujudnya memiliki pengaruh real di bidang agama, ekonomi, politik, sosial, budaya yang menjangkau luasan yang mengagumkan mulai dari Banten, Bogor, Jakarta, hingga Cirebon atau secara umum Jawa Barat dalam rentang waktu 3 abad lebih (358-669 Masehi).

Gambaran kerajaan ini dilihat dari para ‘aktor’nya. Pertama adalah raja. Kedua, pejabat non kerajaan yang biasa diisi pewaris tahta kerajaan, selanjutnya pejabat keagamaan, dewan penasihat kerajaan, pejabat peradilan, dan pejabat daerah (penyambung komunikasi pusat dengan daerah).

Dengan kehidupan sosial Hindu yang empat kasta itulah yang mempengaruhi sepak terjang Tarumanegara, yaitu kasta brahmana (pendeta Hindu), Ksatria (raja, bangsawan, prajurit), waisya (pedagang dan petani) dan Sudra (budak, masyaarakat biasa dan buruh).

Kehidupan perekonomian, Tarumanegara sebagaimana kerajaan Hindu-Budha lainnya, mendapat kas dana dari pajak atas tanah pertanian, perdagangan ekspor-impor (terutama relasi dengan China) dan rampasan perang ketika memenangi peperangan. Dengan sistemnya yang bertahan 311 tahun,bagaimana jika dibandingkan dengan sistem pasca kemerdekaan RI, yang baru berusia 70 tahun dengan 7 presiden?

Kehidupan perekonomian Tarumanegara direfleksikan dari mata pencaharian masyarakatnya: perniagaan, perburuan, perikanan, pertambangan, pertanian dan peternakan. Kehidupan itu tak berbeda bidang-bidangnya di zaman sekarang. Dalam masa presiden masa kini suatu fragmen dari pemerintahan 70 tahun kemerdekaan RI, gambaran Tarumanegara menjadi tantangan. Apalagi melihat kegigihan Raja Ketiga, Purnawarman yang kemudian berhasil memimpin proyek penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang kurang lebih 11 km, itu proyek raksasa di zamannya yang melibatkan banyak aktor, kemudian Purnawarman menyedekahkan 1000 sapi kepada brahmana. Wajar jika ia menjadi simbol dari Tarumanegara karena di masanya ia memimpin rakyatnya menuju puncak kejayaan.

Transportasi (alat angkut) di kala itu adalah pedati, perahu, gerobak dan kapal lengkap dengan pelabuhan. Sekarang beda, sekarang kira-kiraplus pesawat terbang dan kehebatan jaringan komunikasi serta sejumlah teknologi lainnya sampai-sampai memperebutkan sumber energi (minyak) dan barang tambang. Dari segi keuangan, sekarang juga mirip dengan zaman dulu, alat tukar zaman Tarumangeara adalah mata uang dari perak, emas, temabga, dan besi. Mungkin dulu tidak menggunakan sistem bunga bank dan tidak ada lembaga sejenis bank riba. Zaman itu menggunakan sistem perhitungan yang dianggap baku (kolektif).Sampai di sini berhentilah mengatakan “zaman sekarang masalahnya lebih kompeks”.

Kembali ke prestasi, itu Tarumanegara, prestasinya tidak hayalan, sebab kejayaan yang rajanya sakti, perkasa dan menyejahterakan rakyatnya itu telah tertulis berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta dalam Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Jambu di Bogor dan Prasasti Tugu di Jakarta. Jika ada pendapat yang mengatakan bahwa saja prasasti itu menunjukkan sekadar kehebatan raja, dan bukan kehebatan sistemnya, rasanya itu bertolak belakang dengan bukti berupa berita China dari Fa-hsien yang mengabarkan bahwa Tarumanegra termasuk wilayah yang mampu rukun. Sebab rakyatnya beragama Hindu aliran Wisnu(mayoritas) rukun berdampingan hidup dengan penganut Budha serta animisme-dinamisme. Selain itu, kerja sama antar pihak sampai berhasilnya proyek raksasa di zaman itu menunjukkan bahwa sistem dapat dinilai sebagai kemajuan.

Toleransi adalah keadaan orang-orang menebar ide secara bertanggung jawab, berdiskusi, bukan sedikit-sedikit menuduhnya dengan perkataan: “itu syara’” sehingga sejumlah orang tidak pernah mau berpikir tentang kebenaran. Diskusi bukan sesuatu yang perlu ditakuti, itu penting.

Purnawarman tidak menyepelekan agama, terbukti praktis, ia begitu dekat dengan brahmana sebagaimana di zamannya telah bekerja optimal pejabat keagamaan. Tapi tampaknya Purnawarman tidak berhasil mewariskan semangat berloyalitas kepada agama untuk pewaris tahta kerajaan hingga raja kedua belas. Raja Tarumanegara yang terakhir mungkin terbilang gagal. Itu dimulai ketika dua putri raja keduabelas (Linggawarman) yaitu Dewi Manasih dan Sobakencana. Tarusbawa kemudian menikahi Dewi Manasih, sementara Dapunta Hyang Sri Jayanasa menikahi Sobakencana. Tarusbawa mendapat tampuk kepemimpinan dan terlibat dalam mendirikan Kerajaan Sunda dengan memindahkan pusat kerajaan Tarumanegara ke Sunda. Padahal dulunya kerajaan Sunda terintegrasi dengan Tarumanegara. Sedangkan Dapunta Hyang Sri Jayanasa terlibat dalam mendirikan kerajaan Sriwijaya.

Mungkin dari sudut pandang Tarumanegara, bahwa Tarusbawa dan Dapunta beserta keegoisan keduanya, dan ketidakloyalannya kepada agama telah memotong-motong kerajaan Tarumanegara sampai hilanglah nama dan wujud Tarumanegara pasca abad ke-7, itu bertepatan dengan masa di manaIslam yang syumul berkembang pesat dan berpusat di Timur Tengah.

Memang presiden RI masa kini mendapat pujian dari Raja Saudi, bahkan presiden termasuk 100 top tokoh yang berpengaruh di dunia (2015) versi The Time, dan 50 top muslim berpengaruh di dunia (2015) versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre. Apakah rakyat sudah merasakan kesejahteraan? Memang dalam waktu satu tahun itu tidak mungkin, tapi apakah presiden masa kini telah gigih mengabdi? Apakah nawacitanya benar-benar menjadi proyek prioritas? Bagaimana tingkat ketercapaian target setelah bekerja hampir satu tahun?

Namun, yang jelas semua pihak harus kembali merenungi janji ini, Nawa Cita:

Kami akan menghadirkan kembali Negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga Negara.

Kami akan membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya.

Kami akan membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan.

Kami akan menolak Negara lemah dengan melakukan reformasi sistem danpenegakan hukum yang bebas korupsi , bermartabat dan terpercaya.

Kami akan meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.

Kami akan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.

Kami akan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Kami akan melakukan revolusi karakter bangsa.

Kami akan memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Jika Tarumanegara bertahan hingga 3 abad lebih dan mengalami puncak kejayaan bersama raja ketiganya maka apakah Presiden RI ketujuh dapat menjadi simbol puncak kejayaan RI di abad kemerdekaan ini? Karena usia pemerintahannya 5 tahun dan target yang ditetapkannya juga 5 tahun maka hendaknya program yang dapat selesai dalam waktu itu, menjadi prioritas hingga rakyat merasakan kesejahteraan. Itulah tantangannya, yaitu permintaan rakyat agar presiden bekerja gigih dan cepat. Program jangka pendek yang menjadi bagian dari jangka panjang harus benar-benar dirasakan masyarakat manfaatnya, itu lah tantangannya.

Di antara pelajaran yang dapat diambil dari KerajaanTarumanegara adalah, presiden harus bersedekah banyak, presiden harus dekat dengan tokoh agama, presiden harus kuat komunikasinya, presiden harus mewariskan semangat membangun rakyatnya, presiden harus jeli terhadap aktor-aktor yang memecah belah rakyat, presiden harus memeriksa kembali perhitungan sistem riba, dan terakhir presiden harus mewujudkan target-targetnya termasuk proyek besarnya, Nawacita! Tidak perlu menuduh orang lain: “mereka tidak mau berkerja sama”, presiden yang harus membuat sebab-sebab, sehingga mereka mau bekerjasama. Dari sisi sudut pandang manapun, Presiden memiliki tanggungjawab lebih besar, dan harus melakukan gerak lebih dulu dari siapapun. Rakyat tidak berubah jika presidennya tidak berubah lebih dulu.

Posted in Artikel, esai, Materi | Tagged , , , | Leave a comment